Sejarah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dapat dibedakan dalam 3 masa, yaitu masa prasejarah, masa sejarah, dan masa modern.
Peralatan teknologi informasi dan komunikasi yang dikembangkan manusia pada masa ini berfungsi sebagai sistem pengenalan bentuk-bentuk yang dikenal. Mereka menggambarkan informasi yang didapat pada dinding-dinding gua, tentang berburu dan binatang buruannya. Pada masa ini, mereka mulai melakukan pengidentifikasian benda-benda yang ada di sekitar lingkungan mereka tinggal dan mewakilinya dengan bentuk-bentuk yang mereka lukis pada dinding gua tempat mereka tinggal.
Perkembangan selanjutnya adalah diciptakan digunakan alat-alat yang menghasilkan bunyi dan isyarat, seperti gendang/kentongan, terompet yang terbuat dari tanduk binatang, dan isyarat asap sebagai alat pemberi peringatan terhadap bahaya.
Alat komunikasi masa lalu sangat sederhana, bahannya pun masih alami, antara lain, sebagai berikut :
a. Terompet dengan Tanduk Binatang
Dahulu, bunyi terompet digunakan sebagai alat komunikasi utuk menandai dimulai atau diakhirinya kegiatan-kegiatan tertentu. Terompet juga digunakan pada perang untuk menandai perintah dan pergerakan pasukan.
b. Kentongan/Gendang
Kentongan dikenal sebagai sarana komunikasi tradisional. Kentongan sudah lama digunakan oleh bangsa Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Bunyi kentongan yang berbeda-beda berfungsi sebagai informasi kepada warga tentang adanya kejadian-kejadian tertentu.
c. Asap
Suku asli Amerika (Indian) memanfaatkan asap sebagai media komunikasi. Asap dipergunakan untuk mengirimkan pesan kepada teman atau lawan melalui kode-kode tertentu yang disepakati agar dapat saling memahami pesan-pesan yang dikirimkan.
2. Masa Sejarah (3000 SM s.d. 1400-an M)
Pada masa sejarah, teknologi informasi dan komunikasi yang dihasilkan, antara lain tulisan, relief pada batu, dan prasasti. Pada saat manusia sudah mengenal abjad, maka tulisan juga mulai dipergunakan sebagai alat komunikasi. Pesan tertulis tersebut menggunakan media daun lontar, kulit binatang, kulit kayu, batu, dan sebagainya.
a. Tulisan atau Huruf
Diperkirakan dimulai sejak 3000 tahun yang lalu, orang-orang Sumeria menciptakan dan mnggunakan huruf-huruf paku (cuneiform), yang merupakan tulisan pertama yang dikembangkan di dunia. Pada waktu itu, tulisan paku masih ditulis di atas batu. Simbol atau huruf-huruf ini juga mempunyai bentuk bunyi yang berbeda (penyebutan), sehingga mampu menjadi kata, kalimat, dan bahasa.
b. Prasasti
Prasasti adalah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama. Bahan ini berupa batu atau lempengan logam, biasanya dari tembaga. Dalam bahasa latin, prasasti disebut inskripsi.
c. Kertas
Kertas adalah bahan yang tipis dan rata, yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp. Serat yang digunakan biasanya adalah alami, dan mengandung selulosa dan hemiselulosa.
Kertas dikenal sebagai media utama untuk menulis, mencetak serta
melukis dan banyak kegunaan lain yang dapat dilakukan dengan kertas
misalnya kertas pembersih (tissue) yang digunakan untuk hidangan,
kebersihan ataupun toilet.
Adanya kertas merupakan revolusi
baru dalam dunia tulis menulis yang menyumbangkan arti besar dalam
peradaban dunia. Sebelum ditemukan kertas, bangsa-bangsa dahulu
menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar. Hal ini bisa
dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria, Prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutra, bahkan daun lontar yang dirangkai seperti dijumpai pada naskah naskah Nusantara beberapa abad lampau.
3. Masa Modern (1400-an M sampai sekarang)
Ada beberapa tonggak perkembangan teknologi yang secara nyata memberi
sumbangan terhadap perkembangan TIK hingga saat ini. Pertama yaitu
temuan
telepon oleh
Alexander Graham Bell pada tahun
1875. Temuan ini kemudian berkembang menjadi pengadaan jaringan komunikasi dengan
kabel yang meliputi seluruh daratan
Amerika, bahkan kemudian diikuti pemasangan kabel komunikasi
trans-atlantik. Jaringan telepon ini merupakan infrastruktur masif pertama yang dibangun manusia untuk
komunikasi global. Memasuki abad ke-20, tepatnya antara tahun
1910-
1920, terwujud sebuah
transmisi suara tanpa kabel melalui siaran
radio AM yang pertama. Komunikasi suara tanpa kabel ini pun segera berkembang pesat. Kemudian diikuti pula oleh transmisi
audio-visual tanpa kabel, yang berwujud siaran
televisi pada tahun
1940-an.
Komputer elektronik pertama beroperasi pada tahun
1943. Lalu diikuti oleh tahapan miniaturisasi
komponen elektronik melalui penemuan
transistor pada tahun
1947 dan rangkaian terpadu (
integrated electronics) pada tahun
1957. Perkembangan teknologi
elektronika, yang merupakan cikal bakal TIK saat ini, mendapatkan momen emasnya pada era
Perang Dingin. Persaingan
IPTEK antara
blok Barat (Amerika Serikat) dan
blok Timur (dulu Uni Soviet) justru memacu perkembangan teknologi elektronika lewat upaya
miniaturisasi rangkaian elektronik untuk
pengendali pesawat ruang angkasa maupun mesin-mesin perang. Miniaturisasi komponen elektronik, melalui penciptaan rangkaian terpadu, pada puncaknya melahirkan
mikroprosesor.
Mikroprosesor inilah yang menjadi 'otak' perangkat keras komputer dan
terus berevolusi sampai saat ini. Perangkat telekomunikasi berkembang
pesat saat teknologi
digital mulai digunakan menggantikan teknologi
analog. Teknologi analog mulai terasa menampakkan batas-batas maksimal pengeksplorasiannya.
Digitalisasi
perangkat telekomunikasi kemudian berkonvergensi dengan perangkat
komputer yang sejak awal merupakan perangkat yang mengadopsi teknologi
digital. Produk hasil konvergensi inilah yang saat ini muncul dalam
bentuk
telepon seluler. Di atas
infrastruktur telekomunikasi dan
komputasi ini kandungan isi (
content) berupa
multimedia mendapatkan tempat yang tepat untuk berkembang. Konvergensi
telekomunikasi - komputasi multimedia inilah yang menjadi ciri
abad ke-21, sebagaimana
abad ke-18
dicirikan oleh revolusi industri. Bila revolusi industri menjadikan
mesin-mesin sebagai pengganti 'otot' manusia, maka revolusi digital
(karena konvergensi telekomunikasi - komputasi multimedia terjadi
melalui implementasi teknologi digital) menciptakan mesin-mesin yang
mengganti (atau setidaknya meningkatkan kemampuan) 'otak' manusia.